Pages

Selasa, 24 April 2012

Islam Memuliakan Wanita

Sungguh siapa saja yang memperhatikan nash-nash al-Qur’an dan Sunnah, maka akan mendapati perhatian Islam terhadap persoalan wanita, penjagaan hak-haknya, dan peringatan keras bagi yang berbuat zhalim kepadanya.



Islam memerintahkan untuk bermuamalah dengan wanita secara baik, sesuai dengan batasan-batasan yang agung, aturan-aturan yang lurus, dan peringatan yang keras kepada mereka yang berbuat zhalim terhadapnya. Allah berfirman, artinya, “Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. al-Baqarah: 229)



Wanita dalam naungan Islam sesungguhnya berada dalam kehidupan yang mulia. Islam memuliakan mereka, apapun kedudukannya, baik sebagai ibu, anak, saudara perempuan, bibi, istri maupun wanita asing. Beberapa bentuk pemuliaan Islam terhadap wanita dapat kami jelaskan sebagai berikut,



1. Mengistimewakan anak perempuan

Rasulullah bersabda dalam hadits Anas,





مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتىَّ تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ القِياَمَةِ أَناَ وَهُوَ كَهَاتَيْنِ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

“Barangsiapa mengurus dua anak perempuan hingga baligh, akan datang pada hari kiamat saya dan dia seperti ini (Rasulullah merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya).” (HR. Muslim, no, 2631 dari hadits Anas bin Malik)



Dalam hadits lain Rasulullah bersabda,





مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثُ بَنَاتٍ وَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ وكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجَاباً مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa memiliki tiga orang anak perempun dan bersabar atas mereka dan memberikan mereka pakaian dari hasil usahanya maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari nereka” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, no. 76)



Beliau juga bersabda,





مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan dia tetap berbuat baik kepada mereka, anak-anak perempuan tersebut akan menjadi tameng dari api Neraka” (HR. Muslim, no.6862)



2. Memuliakan Ibu

Syariat Islam sangat menekankan untuk memuliakan ibu dengan kemuliaan khusus, menganjurkan untuk senantiasa berbakti dan berbuat baik kepada ibu. Senantiasa membantunya, tidak lupa mendoakannya. Dan menjauhi segala bentuk perbuatan yang menyakiti ibu. Allah berfirman,





وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. al-Isra’: 23)



Islam sangat mendahulukan berbuat baik kepada ibu lebih dari bapak. Dalam hadits Abu Hurairah disebutkan bahwa ada seorang lelaki bertanya, “Kepada siapa aku berbuat baik?” Rasulullah menjawab, “Ibumu” “kemudian siapa?,” “Ibumu,” “kemudian siapa?,” “Ibumu,” “kemudian siapa?,” “Ayahmu”. (HR. al-Bukhari, no. 5971, Muslim, no. 2548)



Bahkan Islam melarang menyakiti orang tua dalam segala bentuknya. Allah berfirman, artinya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. al-Isra’: 23)



Rasulullah juga bersabda,





أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

“Apakah kalian mau aku beritahu dosa besar yang paling besar?” Beliau menyatakannya tiga kali. Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah”. Maka Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orangtua.” (HR. al-Bukhari, no. 2460 dan Muslim, no. 126)



3. Memperhatikan Istri

Seorang istri mempunyai hak dan kedudukan yang agung, mendapat perlakuan yang maruf, dan lemah lembut dari sang suami. Rasulullah bersabda,





أَلاَ وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ، فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٍ عِنْدَكُمْ

“Berbuat baiklah kalian terhadap istri kalian, karena mereka itu hanyalah seperti tawanan di sisi kalian.” (HR. at-Tirmidzi)



Beliau juga bersabda,





أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap para istrinya.” (HR. at-Tirmizi, no. 1162)





لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin benci kepada seorang wanita mukminah (istrinya), jika ia membenci sebuah sikap (akhlak) istrinya maka ia akan ridho dengan sikapnya (akhlaknya) yang lain” [HR. Muslim, no 1469]



4. Memperhatikan Saudara perempuan dan bibi

Rasulullah bersabda,





إِنَّ اللَّهَ يُوْصِيْكُمْ بِأُمَّهَاتِكُم ثَلاَثاً ، إِنَّ اللَّهَ يُوصِيْكُمْ بِآباَئِكُمْ إِنَّ اللَّهَ يُوْصِيْكُمْ بِالأَقْرَبِ فَالأَقْرَبِ

“Sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu-ibu kalian (tiga kali), Sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada bapak-bapak kalian, sesungguhnya Allah berwasiat untuk berbuat baik dengan keluarga yang terdekat kemudian yang dekatnya lagi.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad: 60)





لاَ يَكُونُ لأَحَدِكُمْ ثَلاَثُ بَنَاتٍ أَوْ ثَلاَثُ أَخَوَاتٍ فَيُحْسِنُ إِلَيْهِنَّ إِلاَّ دَخَلَ الجَنَّةَ

“Tidaklah kalian memiliki 3 anak perempuan atau 3 saudara perempuan, kemudian kalian berbuat baik kepada mereka kecuali kalian akan masuk Surga.” (HR. at-Tirmidzi, no 1912)





الرَّحِمُ شُجْنَةٌ مِنَ اللَّهِ، مَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللَّهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللَّهُ

“Sesungguhnya orang yang masih punya hubungan keluarga adalah kerabat erat dari Allah, Barangsiapa yang menyambungnya maka Allah akan menyambungnya, dan barang siapa yang memutusnya maka Allah akan memutusnya.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad: 55)



5. Memperhatikan wanita lain (bukan keluarga)

Islam pun memperhatikan wanita di luar keluarga. Sebagai contoh Rasulullah menganjurkan membantu janda dalam sabdanya,





السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ كَالْقَائِمِ الَّذِي لَا يَفْتُرُ أَوْ كَالصَّائِمِ الَّذِي لَا يُفْطِرُ

“Orang yang berusaha membantu para janda dan orang miskin maka dia seperti orang yang berjihad di jalan Allah atau seperti orang yang shalat malam tidak pernah lelah atau seperti orang yang puasa siang hari tidak berbuka.”(HR. al-Bukhari, no. 6007, Muslim, no. 2982)



6. Memberikan hak bagi wanita untuk memilih suami

Rasulullah bersabda,





لاَ تُنْكَحُ الأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ إِذْنُهَا قَالَ أَنْ تَسْكُتَ

“Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinnya?” Beliau menjawab, “De- ngan sikap diamnya.” (HR. al-Bukhari, no. 5136 dan Muslim, no. 1419)



Sungguh tidak ada ajaran selain Islam yang memuliakan wanita seperti ini. Benarlah Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.